Website atau Instagram untuk UMKM?
6 menit bacaInWebsite
Jawaban singkat
Instagram menarik orang yang belum mencari, sedangkan website ditemukan orang yang sudah mau beli lewat Google. UMKM belum perlu website kalau semua pesanan masih datang dari kenalan dan harganya masih sering berubah. Waktunya tiba saat calon pembeli mulai bertanya "ada website-nya?" atau Anda terus mengetik ulang harga, jam buka, dan lokasi di DM.
Anda sudah punya Instagram, postingannya jalan, dan sebagian pesanan memang masuk dari situ. Lalu ada yang menyarankan bikin website, dan pertanyaannya jadi: perlu atau tidak, dan kalau perlu, kapan. Jawaban singkatnya, keduanya mengerjakan pekerjaan yang berbeda, dan untuk sebagian usaha memang belum waktunya menambah yang kedua.
Instagram dan Google didatangi orang di dua momen yang berbeda
Orang membuka Instagram untuk melihat-lihat. Dia sedang menunggu antrean atau rebahan sebelum tidur, lalu kebetulan lewat postingan Anda. Niat belanjanya belum ada waktu dia mulai menggulir, dan kalaupun muncul, munculnya di tengah jalan karena fotonya menarik.
Orang mengetik di Google waktu keperluannya sudah jelas. "Laundry antar jemput terdekat", "harga potong rambut anak", "bengkel motor buka hari minggu". Kalimat seperti itu ditulis orang yang sudah memutuskan akan mengeluarkan uang hari itu juga, tinggal memilih ke siapa.
Karena itu keduanya tidak saling menggantikan. Akun yang ramai tetap jarang muncul waktu orang mengetik nama layanan Anda di kolom pencarian, karena postingan Instagram memang tidak disusun untuk ditemukan lewat cara itu.
Jawaban yang sama Anda ketik berulang kali di DM setiap minggu
Coba ingat pertanyaan yang masuk ke DM dan WhatsApp Anda minggu lalu. Kemungkinan besar isinya berputar di situ-situ saja: harganya berapa, buka jam berapa, lokasinya di mana, bisa antar ke daerah saya tidak, pesannya lewat mana.
Jawaban itu sebenarnya sudah pernah Anda posting. Masalahnya postingan tersebut sekarang terkubur di bawah tujuh puluh foto lain, dan tidak ada calon pembeli yang mau menggulir sejauh itu demi daftar harga. Sorotan di profil membantu sedikit, tapi tetap harus diketuk satu per satu dan isinya tidak bisa dicari.
Website menaruh jawaban itu di satu alamat tetap yang bisa Anda kirim. Bentuknya bisa Anda lihat di demo laundry yang kami bangun sendiri sebagai latihan internal, bukan pekerjaan klien: kartu harga per kilo untuk cuci reguler, kilat, dan item khusus, jam buka, lalu satu tombol WhatsApp untuk minta jemput. Alamat seperti itu bisa ditempel di bio, di stiker paket, atau di balasan chat, dan isinya sama tiap kali orang membukanya.
Sebagian UMKM memang belum perlu website, dan itu wajar
Kalau usaha Anda baru jalan dua bulan dan semua pesanan datang dari tetangga, grup WhatsApp komplek, dan teman kantor lama, website belum akan menambah apa-apa. Yang Anda butuhkan sekarang adalah lebih banyak orang tahu Anda ada, dan itu masih bisa dikejar dari akun yang sudah jalan.
Tanda lain bahwa waktunya belum tiba: foto produk Anda masih seadanya, harga masih berubah tiap dua minggu karena ongkos bahan belum stabil, atau Anda sendiri belum bisa menjelaskan dalam satu kalimat apa yang Anda jual. Website yang dibangun di atas hal-hal yang belum mengendap itu akan segera minta dirombak, dan merombak selalu lebih mahal daripada menunggu.
Satu pekerjaan yang justru sebaiknya Anda dahulukan, dan ini gratis: daftarkan usaha Anda di Google Business Profile. Nama, alamat, jam buka, foto, dan nomor Anda akan muncul di Google Maps dan di hasil pencarian lokal tanpa Anda punya website sama sekali. Panduan langkah demi langkah sampai terverifikasi kami sertakan di paket Starter, tapi Anda tidak perlu menunggu kami untuk mengerjakannya.
Tanda waktunya sudah tiba biasanya datang dari calon pembeli
Pertanyaan "ada website-nya?" terdengar sepele sampai Anda memperhatikan siapa yang menanyakan. Biasanya calon pesanan yang nilainya lebih besar: kantor yang mau order seragam untuk lima puluh orang, panitia acara yang sedang mengumpulkan vendor, atau distributor yang menimbang mau menitipkan barang. Yang mereka cari dari jawaban Anda sederhana, yaitu bukti bahwa usaha ini cukup mapan untuk dikirimi uang muka.
Tanda berikutnya lebih teknis. Anda mulai memasang iklan berbayar, dan orang yang mengklik mendarat di profil Instagram yang baris pertamanya postingan ucapan hari raya. Anda juga sudah tiga kali mengirim katalog PDF yang sama lewat chat, satu per satu, ke orang yang berbeda. Pesanan mulai masuk dari luar kota, dari orang yang tidak kenal Anda dan tidak punya siapa-siapa untuk ditanyai soal Anda.
Instagram menarik orangnya, website yang menjawab sesudahnya
Cara paling hemat memakai keduanya begini: Instagram tetap jadi tempat Anda muncul tiap hari dengan wajah, proses kerja, dan hasil jadinya, lalu tautan di bio mengarah ke website. Orang yang mengetuk tautan itu sudah tertarik duluan, dia tinggal butuh harga, lokasi, dan cara memesan tanpa harus bertanya.
Website juga bekerja di jam Anda tidak bekerja. Pertanyaan yang muncul jam sebelas malam sudah dijawab halaman harga, dan Anda tidak membuka pagi hari dengan dua puluh chat berisi pertanyaan yang sama.
Arah sebaliknya juga jalan. Foto dan cerita yang sudah Anda buat untuk Instagram bisa dipakai ulang sebagai isi halaman, jadi Anda tidak mulai dari halaman kosong. Di paket Business ada blog untuk menampungnya, dan tiga artikel awalnya kami yang tuliskan.
Website UMKM yang pertama cukup satu halaman
Sebagian besar demo UMKM yang kami bangun berbentuk satu halaman: beranda, tentang, daftar harga, kontak, semuanya dalam satu gulungan. Barbershop-nya memakai daftar layanan bergaya papan harga, floristnya memakai kartu katalog per momen. Polanya mirip karena kebutuhannya memang mirip.
Yang wajib ada isinya pendek:
- Harga atau kisaran harga, ditulis terbuka. Ini yang paling sering dicari dan paling sering disembunyikan.
- Jam buka dan lokasi, plus tautan ke Google Maps kalau Anda punya tempat fisik.
- Tombol WhatsApp yang sekali ketuk langsung membuka chat, terpasang di header dan di bagian atas halaman.
- Form kontak yang pesannya masuk ke email Anda, untuk orang yang enggan memulai chat.
- Tampilan yang rapi di layar HP lebih dulu, karena hampir semua pengunjung Anda datang dari sana.
Yang belum perlu Anda pikirkan di website pertama: pembayaran online, login pelanggan, dan panel admin. Ketiganya menambah biaya dan menambah hal yang bisa rusak, sementara transaksinya masih jauh lebih lancar lewat WhatsApp.
Angka untuk website UMKM pertama di tempat kami
Paket Starter Rp 1.500.000, turun dari Rp 3.500.000. Isinya domain .com, hosting, dan SSL untuk satu tahun, desain mobile-first yang mengikuti brand Anda, tombol WhatsApp, form kontak yang masuk ke email, SEO dasar supaya halamannya bisa diindeks Google, dan satu bulan support teknis untuk perbaikan bug setelah website live. Panduan Google Business Profile tadi ikut di paket ini.
Pengerjaannya sekitar tiga hari sejak brief dan materi lengkap kami terima. Kalau Anda ingin website yang menjawab pengunjung sendiri, chatbot AI bisa ditambahkan di Starter seharga Rp 500.000, sementara di paket Business Rp 5.000.000 chatbot itu sudah termasuk untuk tahun pertama bersama blog dan penyimpanan foto di CDN Cloudflare. Isi tiap paket berdampingan ada di halaman harga.
Kalau Anda masih ragu apakah sekarang waktunya, ceritakan saja kondisi usaha Anda lewat WhatsApp. Kami balas maksimal 1x24 jam di hari kerja, dan kalau jawabannya Anda belum perlu website, itu juga yang akan kami bilang.
Langkah berikutnya
Bandingkan isi tiap paket berdampingan, atau lihat hasil jadi yang bentuknya paling dekat dengan usaha Anda.
Artikel lain
Cara Membuat Website untuk Usaha: Gratis, Builder, atau Jasa
Cara membuat website usaha: gratis di Google Sites, Wix, atau WordPress.com, builder berbayar, WordPress sendiri, atau jasa, dengan biaya dan batasnya.
NIB UMKM: Cara Membuat di OSS dan Dipakai untuk Apa
Cara membuat NIB UMKM perorangan di OSS tanpa biaya, syarat yang perlu disiapkan, memilih KBLI 2025, dan gunanya untuk Shopee, TikTok Shop, dan halal.
